Kamis, 19 April 2018

makalah IBD tentang Kegelisahan (oleh Ayu Indah Lestari)



A. Pengertian Kegelisahan
       Kegelisahan berasal dari kata “gelisah”.  Gelisah artinya rasa yang tidak tenteram di hati atau merasa selalu khawatir, tidak dapat tenang (tidurnya), tidak sabar lagi (menanti), cemas dan sebagainya. Kegelisahan menggambarkan seseorang tidak tenteram hati maupun perbuatannya, artinya merasa gelisah, khawatir, cemas atau takut dan jijik. Rasa gelisah ini sesuai dengan suatu pendapat yang menyatakan bahwa manusia yang gelisah itu hantui rasa khawatir atau takut.[1]
Kegelisahan hanya dapat diketahui dari gejala tingkah laku atau gerak-gerik seseorang dalam situasi tertentu. Gejala gerak-gerik atau tingkah laku itu umumnya lain dari biasanya, misalnya berjalan mondar-mandir dalam ruang tertentu sambil menundukkan kepala, duduk merenung sambil memegang kepala, duduk dengan wajah murung, malas bicara, dan lain-lain. Kegelisahan juga merupakan ekspresi dari kecemasan. Masalah kegelisahan atau kecemasan berkaitan juga dengan masalah frustasi, yang secara definisi dapat disebutkan, bahwa seseorang mengalami frustasi karena apa yang diinginkan tidak tercapai.
Hal ini terjadi misalnya karena adanya suatu harapan, atau adanya ancaman. Manusia gelisah karena takut terhadap dosa-dosa dan pelanggaran yang telah dilakukan, takut terhadap hasil kerja yang tidak memuaskan, takut akan kehilangan harta dan jabatan, atau takut menghadapi keadaan masa depan yang tidak sesuai. Sedangkan sumber kegelisahan berasal dari dalam diri manusia (internal) misalnya rasa lapar, haus, rasa sepi, dan dari luar diri manusia (eksternal) misalnya kegelisahan karena diancam seseorang.
      Menurut Sigmund Freud perasaan cemas ini dapat digolongkan menjadi tiga macam yaitu:[2]


a.       Kecemasan Kenyataan (objektif)
Kecemasan ini dikarenakan adanya bahaya dari luar yang mengancam dan benar-benar dihadapi secara nyata. Misalnya: seorang ibu gelisah karena anaknya diculik, seorang ibu gelisah karena anaknya sakit,dan seorang pelajar gelisah karena kartu ujiannya hilang.
b.      Kecemasan Neurotik (syaraf)
Kecemasan ini timbul karena pengamatan tentang bahaya dari nalurinya. Misalnya: takut berada di suatu tempat yang asing dan harus menyesuaikan diri dengan lingkungannya, rasa takut seperti fobia, gugup/gagap atau gemetaran
c.       Kecemasan Moral
Kecemasan ini muncul dari emosi diri sendiri yang memunculkan sifat-sifat iri, dengki, dendam, pemarah. Dengan adanya sifat ini manusia cenderung mengalami rasa khawatir, takut, cemas, atau bahkan putus asa setelah melihat keberhasilan orang lain.
      Sebagian besar kegelisahan manusia disebabkan oleh rasa takut akan kehilangan hak, nama baik, maupun ancaman dari luar dan dari dalam. Untuk mengatasinya manusia perlu meningkatkan iman, takwa, amal shaleh, penyabar, dan menjalankan shalat lima waktu.
B. Bentuk-Bentuk Kegelisahan
1. Keterasingan
Keterasingan berasal dari kata terasing, asal kata dari kata dasar asing. Kata asing berarti sendiri, tidak dikenal orang, sehingga kata terasing berarti tersisihkan dari pergaulan, terpisahkan dari yang lain, atau terpencil. Jadi, keterasingan berarti hal-hal yang berkenaan dengan tersisihkan dari pergaulan, terpisah dari yang lain atau terpencil.[3]                                   

Sebab-sebab keterasingan                                                                                                                                      
Bila kita memerhatikan contoh Murni tidak mau bergaul lagi dengan kawan-kawannya, hidup menyendiri, karena malu atas perbuatannya yang melanggar moral. Jadi, sebab-sebab hidup terasing itu bersumber pada:
Ø  Perbuatan yang tidak dapat diterima oleh masyarakat, antara lain mencuri, bersikap angkuh atau sombong.
Ø  Sikap rendah diri yaitu sikap yang menganggap atau merasa dirinya selalu atau tidak berharga, kurang mampu dihadapan orang lain. Sikap ini disebut juga sikap minder. Sikap rendah diri disebabkan antara lain kemungkinan cacat fisik, status sosial-ekonominya, rendah pendidikannya, dan karena kesalahan perbuatannya.
a.       Keterasingan Karena Cacat Fisik[4]
Cacat fisik tidak perlu membuat hidup terasing karena itu adalah kehendak Tuhan. Namun, sering kali manusia memiliki jalan pikiran yang berbeda. Merasa malu anak atau cucunya cacat fisik, maka disingkirkannya anak tersebut dari pergaulan ramai, hidup dalam keterasingan.
b.      Keterasingan Karena Sosial-Ekonomi
Ekonomi kuat atau lemah adalah anugerah Tuhan. Orang tidak boleh membanggakan kekayaan dan tidak boleh pula merasa rendah diri karena keadaan ekonomi yang minim. Namun, dalam kenyataan lain keadaannya, orang-orang yang tergolong lemah ekonominya sering kali merasa rendah diri. Akibatnya, orang-orang kaya sering membanggakan kekayaannya, meskipun tanpa disengaja.
c.       Keterasingan Karena Rendah Pendidikan
Banyak juga orang yang merasa rendah diri karena rendah pendidikannya dan tidak dapat mengikuti jalan pikiran orang yang berpendidikan tinggi dan banyak pengalaman. Dalam pergaulan orang-orang yang berpendidikan rendah dan kurang berpengalaman biasanya menyendiri, mengasingkan diri karena merasa sulit menempatkan diri. Ingin bertanya takut salah, juga takut ditanya, takut jawabanya tidak benar. Akibatnya, ia menjauhkan diri dari pergaulan. Akan tetapi, orang seperti itu masih lebih baik daripada mereka yang berlagak pintar dan akhirnya menjadi bahan tertawaan.
d.      Keterasingan Karena Perbuatannya
Orang terpaksa hidup dalam keterasingan karena merasa malu, dunia rasanya sempit, bila melihat orang, mukanya ditutupi. Itu semua akibat dari pebuatannya, yang tidak bisa diterima oleh masyarakat lingkungannya.
Usaha-usaha untuk mengatasi keterasingan
Keterasingan biasanya terjadi karena sikap sombong, angkuh, pemarah, rendah diri, atau karena melanggar norma hukum dikarenakan takut kehilangan haknya. Untuk mengatasi keterasingan ini diperlukan kesadaran yang tinggi. Orang bersikap demikian karena menganngap semua yang mereka lakukan adalah benar.
     Lain halnya dengan orang yang rendah diri. Orang mempunyai sifat ini biasanya sadar akan kekurangannya. Untuk meningkatkan harga diri, ia harus banyak belajar dan banyak bergaul. Pergaulan itu dilakukan sedikit demi sedikit dan terus meningkat, sehingga akhirnya menjadi biasa.
2.      Kesepian
Kesepian berasal dari kata sepi, artinya sunyi, lenggang, tidak ramai, tidak ada orang atau kendaraan, tidak banyak tamu. Kesepian adalah menerangkan keadaan yang sepi.[5]
Contoh: Setelah anaknya menikah dan punya rumah sendiri, ibu Arman merasa         kesepian.
Sebab-sebab terjadinya kesepian
Salah satunya adalah frustasi. Orang yang frustasi tidak mau diganggu, ia lebih senang dalam keadaan sepi, tidak suka bergaul, dan ia lebih senang hidup sendiri.
Usaha-usaha untuk mengatasi kesepian
Banyak belajar dan hidup bergaul, memanfaatkan waktu dengan melakukan hal-hal yang bermanfaat.

3.      Ketidakpastian  
      Ketidakpastian berasal dari kata tidak pasti artinya tidak menentu (pikiranya), atau apa yang dipikirkan tidak searah dan kemana tujuannya tidak jelas. Akibatnya pikiran tidak dapat berkonsentrasi disebabkan oleh berbagai sebab, yang paling utama adalah kekacauan pikiran.[6]
Menurut Siti Meichati dalam bukunya Kesehatan Mental menerangkan beberapa penyebab seseorang tak dapat berpikir dengan pasti. Sebab-sebab itu adalah:
1.      Obsesi
Obsesi merupakan gejala kejiawaan, yaitu adanya pikiran atau perasaan tertentu yang terus-menerus, biasanya tentang hal-hal yang tak menyenangkan, atau penyebab lain yang tak diketahui oleh penderita. Misalnya selalu berpikir ada orang yang ingin menjatuhkan dia. Contoh: seorang kepala bagian suatu instansi karena kurang mampu bekerja, akhirnya dia merasakan ada pihak yang ingin menjatuhkannya.
2.      Phobie
Yaitu rasa ketakutan yang tak terkendali atau tidak normal terhadap suatu hal atau kejadian, tanpa diketahui sebab-sebabnya. Contoh: orang yang takut terhadap tempat yang tinggi. Secara tidak sengaja, ia terus menelusuri jalan mendaki. Sesampainya di puncak ketinggian, ia ketakutan luar biasa. Orang yang dilanda ketakutan itu tidak dapat berpikir. Pikirannya tidak pasti, tidak menentu.
3.      Kompulasi
Ialah adanya keragu-raguan yang sangat mengenai apa yang telah dikerjakan, sehingga ada dorongan yang tidak disadari untuk selalu melakukan perbuatan-perbuatan yang serupa berulang kali. Contoh: keinginan untuk mengambil barang orang (mencuri), padahal barang itu tak bermanfaat baginya, dan ia mampu andaikata ingin membelinya.
4.      Histeria
Ialah gejala kejiawaan yang disebabkan oleh tekanan mental, kekecewaan, pengalaman pahit yang menekan, tidak mampu menguasai diri, atau sugesti dari sikap orang lain. Contoh: Mila, seorang gadis yang cukup manis, suatu hari melihat pacarnya jalan-jalan dengan seorang gadis yang belum pernah dikenalnya. Rasa cemburu berkecamuk di hatinya dan setibanya di rumah dia berteriak histeris.
5.      Delusi
Menunjukkan pikiran tidak beres, karena berdasarkan keyakinan palsu. Tidak dapat memakai akal sehat, tidak ada dasar kenyataan dan tidak sesuai dengan pengalaman. Delusi ini ada tiga macam, yakni:
a.       Delusi Persekusi: menganggap adanya keadaan yang jelek di sekitarnya. Akibatnya, banyak orang menjauhi. Contoh: orang yang tidak suka bergaul jika mengalami kesusahan tidak ada yang menolong, mau minta bantuan takut ditolak
b.      Delusi Keagungan: menganggap dirinya orang penting dan besar. Orang seperti itu biasanya gila hormat dan menganggap orang di sekitarnya tidak penting. Akhirnya semua orang menjauhinya. Contoh: orang yang gila hormat
c.       Delusi Melancholis: merasa dirinya bersalah, hina dan berdosa. Hal ini dapat mengakibatkan delirium tremens, hilangnya kesadaran dan menyebabkan otot-otot tak terkuasai lagi. Ia kehilangan ingatannya sama sekali, mengalami tensi tinggi dan mengingat sesuatu yang belum pernah dialami. Contoh: meskipun dia tidak bersalah, tetapi ketika ada panggilan dari pengadilan merasa berdosa.
6.      Halusinasi
Khayalan yang terjadi tanpa rangsangan pancaindra. Misalnya dapat dialami oleh orang yang mabuk atau pemakai obat bius. Penderita halusinasi seperti itu sadar akan perbuatanya, tetapi tidak dapat menahan rangsangan daya khayalnya sendiri. Contoh: Rudi memang seorang peminum. Bila sedang marah, ia makin banyak minumnya sehingga mabuk dan mengoceh (berbicara) tidak menentu.
7.      Keadaan Emosi
Apabila emosi seseorang telah menguasai rasio, maka bisa mengganggu nafsu makan, pusing-pusing, muka merah, badan berkeringat, dan tekanan darah menjadi tinggi. Kemudian bisa timbul sikap apatis atau terlalu gembira. Hal tersebut dapat diekspresikan dengan berbagaia gerakan, misalnya dengan berlari-lari, tertawa atau berbicara. Atau dengan sikap sedih yang menekan, tidak bernafsu, tidak bersemangat, rasah gelisah, suka mengeluh, tidak mau berbicara, dan termenung.
      Untuk mengatasi atau menghilangkan pikiran yang kacau itu perlu mencari penyebabnya. Andaikata telah diketahui penyebabnya, namun kekacauan pikiran tersebut tidak hilang, penderita perlu diajak ke psikolog.       




[1] Syafruddin Syam, Ilmu Sosial Budaya Dasar (Jakarta: PT RAJA GRAFINDO) 2015, hlm. 169.
[2] Sujarwo, Ilmu Sosial & Budaya Dasar (Yogyakarta: PUSTAKA PELAJAR) 2014, hlm. 155.
[3] Ahmad Mustofa, Ilmu Budaya Dasar (Bandung: CV PUSTAKA SETIA) 1998, hlm. 151. 


[4] Ibid., h. 153-155
[5] Sujarwo, Ilmu Sosial & Budaya Dasar (Yogyakarta: PUSTAKA PELAJAR) 2014, hlm. 163.
[6] Ibid., h. 164-166

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

makalah IBD tentang Kegelisahan (oleh Ayu Indah Lestari)

A. Pengertian Kegelisahan         Kegelisahan berasal dari kata “gelisah”.   Gelisah artinya rasa yang tidak tenteram di hati atau mera...